PPL Muda Magelang Dorong Desa Jadi Garda Depan Pelestarian Plasma Nutfah Lokal
MAGELANG — Pelestarian varietas tanaman lokal menghadapi tantangan ketika benih masih tersimpan, tetapi budidayanya mulai ditinggalkan. Padahal, keberlanjutan plasma nutfah tidak hanya bergantung pada penyimpanan benih, tetapi juga pada kemampuan petani untuk terus menanam, mengembangkan, dan mewariskan varietas yang telah beradaptasi dengan lingkungan serta budaya setempat.
Berangkat dari persoalan tersebut, Aris Supriyatmoko, S.P., Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sekaligus Tim Kerja Magelang, mengusulkan Gerakan Lestari Plasma Nutfah Lokal Jawa Tengah. Gagasan ini menempatkan desa sebagai salah satu pusat pelestarian dengan melibatkan petani, penyuluh, pemerintah daerah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan komunitas untuk menjaga keberlanjutan varietas lokal.
Gagasan tersebut mengusung slogan “Lestarikan Plasma Nutfah Lokal, Wujudkan Ketahanan Pangan, Tingkatkan Kesejahteraan Petani.” Pesan ini mencerminkan dua tujuan yang ingin dicapai, yakni mempertahankan keragaman tanaman lokal sekaligus membuka peluang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang membudidayakannya.
Salah satu langkah yang diusulkan adalah pengembangan Desa Konservasi Plasma Nutfah, yaitu desa binaan yang diarahkan menjadi pusat pelestarian dan budidaya varietas lokal secara berkelanjutan. Upaya ini mencakup pengembangan bank benih tingkat desa, pendataan varietas lokal, sekolah lapang, serta demplot perbandingan varietas lokal dan varietas modern. Dokumentasi asal-usul dan karakteristik tanaman juga diperlukan agar informasi mengenai kekhasan serta potensi setiap varietas dapat terjaga.
Pelestarian juga perlu memberikan manfaat ekonomi bagi petani. Dalam gagasannya, Aris mengusulkan pengembangan produk bernilai tambah, seperti beras premium dari varietas lokal dan olahan umbi-umbian, yang didukung oleh penguatan kemasan, identitas produk, dan akses pemasaran. Pendekatan ini membuka peluang agar varietas lokal tidak hanya dipertahankan sebagai sumber daya genetik, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari potensi ekonomi daerah.
Gagasan Gerakan Lestari Plasma Nutfah Lokal Jawa Tengah sejalan dengan upaya Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) dalam mendorong konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman tanaman pertanian. Penguatan kapasitas penyuluh, pendampingan petani, dokumentasi sumber daya genetik, dan kolaborasi lintas sektor menjadi aspek penting untuk mendukung upaya tersebut di tingkat daerah.
Melalui gagasan ini, desa tidak hanya diposisikan sebagai lokasi budidaya, tetapi juga sebagai ruang bagi petani dan masyarakat untuk berperan dalam menjaga kekayaan tanaman lokal. Jika dikembangkan melalui kolaborasi yang berkelanjutan, inisiatif tersebut berpotensi memperkuat upaya konservasi sekaligus menjaga agar varietas lokal tetap dikenal, dibudidayakan, dan dimanfaatkan oleh generasi mendatang.