Toto Sugiharto dan Ketekunan Merawat Padi Lokal dari Seruyan
SERUYAN – Bagi Toto Sugiharto, mempertahankan padi lokal bukan berarti sekadar menyimpan benih agar tidak hilang. Ada proses panjang untuk memastikan tanaman yang dipilih benar-benar memiliki karakter yang baik, ditanam kembali, diamati pertumbuhannya, hingga benihnya disiapkan untuk musim berikutnya. Dari Desa Sungai Undang, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Toto menekuni pemuliaan padi lokal Siam Epang secara mandiri sejak 2023. Padi ini merupakan salah satu padi lokal yang masih dipertahankan dan dibudidayakan oleh masyarakat Seruyan.
Ketertarikan Toto pada pertanian berangkat dari keinginannya untuk mengubah cara pandang terhadap profesi petani. Baginya, bertani dapat menjadi sebuah usaha yang dikembangkan, terlebih masyarakat Kalimantan Tengah memiliki kedekatan yang kuat dengan sumber daya alam. Pandangan tersebut kemudian diwujudkan melalui ketekunannya mempelajari tanaman dan mempertahankan benih lokal. Ia tidak hanya menanam Siam Epang, tetapi juga melakukan seleksi tanaman berdasarkan pertumbuhan dan kualitasnya. Salah satu teknik yang digunakan adalah uji bernas atau pemisahan densitas untuk mendapatkan bulir yang baik dari tanaman sehat sebagai sumber benih.
Dalam praktiknya, pemuliaan di tingkat petani membutuhkan pengamatan yang terus-menerus. Setelah lahan disiapkan menggunakan sistem decomposer, yaitu pemanfaatan mikroorganisme untuk membantu menguraikan bahan organik dan mengurangi sisa bahan kimia di dalam tanah, benih ditanam dan dipantau selama pertumbuhan. Gulma dikendalikan, kondisi tanaman diamati, sementara gangguan hama dan penyakit juga diperhatikan. Tanaman yang pertumbuhannya kurang baik dipisahkan agar tidak menjadi sumber bibit. Rangkaian proses ini memperlihatkan bahwa seleksi benih bukan dilakukan sekali, melainkan menjadi proses berkelanjutan untuk mempertahankan karakter tanaman yang diinginkan.
Upaya Toto bahkan berkembang ke tahap eksperimen. Ia mencoba melakukan persilangan Siam Epang dengan padi hibrida untuk memperoleh keturunan yang menggabungkan sifat unggul dari dua varietas berbeda. Dalam percobaan tersebut, tanaman induk dipilih berdasarkan karakter yang diharapkan, seperti kualitas beras, umur panen, ketahanan terhadap penyakit, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi lahan setempat. Hasilnya memang belum sesuai harapan, tetapi eksperimen tetap dilanjutkan secara mandiri. Di saat yang sama, Toto juga aktif menjadi pemateri dalam pertemuan kelompok tani, sehingga pengalaman yang diperolehnya tidak berhenti di lahannya sendiri.
Kisah Toto menunjukkan bahwa petani juga merupakan sumber pengetahuan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati pertanian. Pengetahuan mengenai karakter padi, cara memilih tanaman, menyimpan benih, dan menanamnya kembali merupakan pengetahuan yang tumbuh dari praktik di lapangan dan perlu terus didokumentasikan serta diwariskan. Hal ini menjadi bagian penting dalam kerja CDCSUI (Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia), yang mendorong pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman tanaman secara berkelanjutan, termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan sumber daya genetik tanaman. Di tengah kecenderungan petani beralih ke varietas yang dianggap lebih menguntungkan, upaya seperti yang dilakukan Toto menjadi salah satu cara agar padi lokal tetap ditanam, dipelajari, dan memiliki peluang untuk terus berkembang.
“Didanai pemerintah ataupun tidak didanai, saya akan tetap meneliti, menanam dan memuliakan benih padi lokal.”
— Toto Sugiharto