Tak Tertulis, tapi Terus Hidup: Pengetahuan Tradisional Sedulur Sikep
BLORA – Di tengah kehidupan masyarakat Sedulur Sikep Samin, pengetahuan tentang pertanian tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menghasilkan pangan. Pengetahuan tersebut tumbuh dari pengalaman yang berlangsung lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di Klopoduwur dan Sambongrejo, pengetahuan mengenai tanaman pangan lokal masih dikenal dan dipraktikkan, sejalan dengan kehidupan masyarakat yang sejak lama dekat dengan pertanian.
Pengetahuan itu salah satunya terlihat dari bagaimana masyarakat mengenali dan mempertahankan berbagai jenis tanaman pangan lokal. Talas dan Uwi/Gembili masih dibudidayakan oleh sebagian masyarakat dengan cara sederhana di pekarangan, kebun campuran, maupun lahan tegalan. Praktiknya memanfaatkan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Hasilnya pun sebagian besar masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sehingga keberadaan tanaman tersebut tetap menjadi bagian dari sistem pangan masyarakat.
Pengetahuan tersebut juga tercermin dari keberagaman tanaman yang masih dikenal masyarakat. Di Klopoduwur, masyarakat mengenal sedikitnya dua varietas talas dan tiga varietas uwi. Sementara di Sambongrejo, ditemukan pengetahuan mengenai enam varietas talas dan enam varietas uwi. Keberadaan berbagai varietas tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tidak berhenti pada mengenal nama tanaman, tetapi berkembang melalui pengalaman dalam mengenali dan mengelola tanaman yang telah mereka temui dari generasi ke generasi.
Dalam kehidupan Sedulur Sikep, pengetahuan tradisional juga berjalan bersama nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kejujuran, kesederhanaan, persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan gotong royong merupakan nilai yang diwariskan secara turun-temurun. Pandangan untuk hidup selaras dengan alam juga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai kehidupan dan lingkungan di sekitarnya.
Meski masih hidup, pengetahuan tersebut menghadapi tantangan dalam perkembangannya. Budidaya tanaman lokal belum dilakukan secara intensif, produksinya masih terbatas, dan pemanfaatannya lebih banyak untuk kebutuhan rumah tangga daripada pasar. Pengolahan lanjutan dan akses pasar juga belum berkembang secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa mempertahankan pengetahuan tradisional tidak hanya tentang menjaga praktik yang sudah ada, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut tetap dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Melalui Program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI), pengalaman dan pengetahuan masyarakat menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan kegiatan konservasi di Blora. Masyarakat adat Sedulur Sikep sudah menyatakan setuju atas program ini untuk dilaksanakan di tempat mereka.
Laporan asesmen merekomendasikan agar pengalaman adat dan budaya yang telah berjalan lama dapat diintegrasikan dan diadaptasikan dengan perkembangan pengetahuan serta teknologi baru. Dengan begitu, pertukaran pengetahuan dapat berlangsung secara sinergis dan kolaboratif, sekaligus menjaga agar pengetahuan yang telah hidup di tengah masyarakat tetap memiliki ruang untuk berkembang.