SUSETYO: Penjaga Rojolele Tetap Lestari
KLATEN — Di tengah semakin berkurangnya petani yang membudidayakan padi Rojolele, Susetyo memilih untuk tetap menanam varietas lokal yang telah dikenalnya sejak kecil. Baginya, Rojolele bukan sekadar tanaman pangan, melainkan warisan keluarga yang menyimpan kenangan, nilai budaya, dan sejarah pertanian di desanya.
Susetyo merupakan satu dari lima petani di Klaten yang tercatat melakukan budi daya rojolele pada tahun 2026. Ingatan tentang sang kakek yang dahulu mengolah padi secara tradisional menggunakan lesung dan lumpang menjadi salah satu alasan Susetyo bertahan menanam Rojolele. Ia ingin menjaga agar varietas yang telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya itu tidak hilang ditelan perubahan zaman. Lebih dari sekadar mempertahankan tanaman, ia berharap generasi muda tetap mengenal kekayaan pertanian lokal sekaligus mewarisi tradisi yang tumbuh bersama keberadaan Rojolele.
Kepedulian tersebut diwujudkan melalui upaya nyata. Susetyo berusaha mencari benih Rojolele ke berbagai tempat hingga akhirnya berhasil memperoleh sekitar empat kilogram benih untuk memulai penanaman. Dengan jumlah yang terbatas, ia perlahan berupaya menghidupkan kembali varietas yang kini semakin jarang dibudidayakan petani.
“Orientasi pertama saya karena sejak kecil sudah mengenal rojolele ini, kedua karena ini warisan dari embah saya, jadi saya serius ingin mengembalikan rojolele seperti zaman dulu,” ujar Susetyo.
Bagi Susetyo, pelestarian tidak cukup hanya dengan mengenang masa lalu. Harus ada langkah nyata untuk menanam, merawat, dan menjaga keberlanjutan varietas tersebut. Ia menyadari bahwa upaya ini tidak selalu memberikan keuntungan ekonomi secara langsung. Namun, baginya, keberanian untuk memulai dan ketekunan menjalani proses menjadi bagian penting dalam mempertahankan warisan pertanian leluhur.
Perjalanan membudidayakan Rojolele pun bukan tanpa tantangan. Keterbatasan air saat musim kemarau, pertumbuhan gulma yang memerlukan pengendalian secara berkelanjutan, serta meningkatnya biaya produksi menjadi sejumlah kendala yang harus dihadapi. Kondisi tersebut menuntut ketekunan dan komitmen agar Rojolele tetap dapat tumbuh di lahan pertanian.
Meski demikian, berbagai tantangan itu tidak menyurutkan niatnya. Susetyo tetap berupaya melanjutkan penanaman Rojolele karena meyakini bahwa mempertahankan varietas lokal merupakan pekerjaan penting yang perlu dilakukan sejak sekarang. Di tengah perubahan kondisi pertanian dan pilihan varietas yang semakin beragam, keberadaan petani yang bersedia terus menanam menjadi salah satu kunci agar sumber daya genetik tanaman tidak tergerus oleh waktu.
Harapan untuk mengembangkan Rojolele juga tumbuh melalui keterlibatannya dalam upaya konservasi keanekaragaman tanaman. Susetyo menyambut baik Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI), yang mendukung konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman tanaman secara berkelanjutan.
Ia bahkan menyampaikan rencana untuk memperluas upaya pelestarian Rojolele dengan memanfaatkan sebagian lahan seluas sekitar empat hektare yang berkaitan dengan tugas desa dalam mendukung ketahanan pangan. Rencana tersebut membuka peluang untuk mengembangkan budidaya Rojolele dalam skala yang lebih luas, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat desa dalam menjaga keberadaan varietas lokal.
Pengembangan ini diharapkan tidak hanya memperluas areal tanam, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat bahwa varietas lokal memiliki nilai penting yang melampaui hasil panen. Rojolele menyimpan kekayaan genetik, pengetahuan budidaya yang diwariskan antargenerasi, serta keterkaitan dengan identitas dan budaya masyarakat setempat.