Seruyan Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Lestarikan Padi Lokal
SERUYAN — Beras Ungu, Garagai, Gaharu, hingga Sabang menjadi bagian dari kekayaan sumber daya genetik padi lokal di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Setiap varietas memiliki karakteristik berbeda, mulai dari warna dan aroma hingga rasa serta ketahanan tanaman. Namun, keberadaan padi lokal menghadapi tantangan, termasuk berkurangnya minat generasi muda terhadap pertanian. Upaya bersama diperlukan agar varietas tersebut tetap dibudidayakan dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat koordinasi lintas sektor melalui Forum Koordinasi Lintas Sektor Pengelolaan Sumber Daya Genetik Pertanian dan Pelatihan OPD Kabupaten Seruyan pada 14–15 Oktober 2026. Kegiatan yang didukung Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) ini membahas strategi konservasi dan pemanfaatan tanaman lokal dengan melibatkan pemerintah daerah, penyuluh, dan pemangku kepentingan lainnya.
Mewakili Bupati Seruyan, Sekretaris Daerah Kabupaten Seruyan, dr. Bahrun Abbas menekankan pentingnya menjaga varietas lokal sekaligus mengembangkan potensinya. Padi lokal tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga berpeluang menjadi identitas daerah dan memberikan nilai tambah ekonomi.
“Padi lokal perlu dilestarikan agar tetap dibudidayakan masyarakat dan memiliki nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Potensi tersebut sejalan dengan peran pertanian dalam perekonomian daerah. Kepala Bapperida Kabupaten Seruyan, Agung Setiawan, M.Si., menyampaikan bahwa sektor pertanian menyerap sekitar 62 persen tenaga kerja atau 51 ribu jiwa dan berkontribusi sebesar 38,04 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB). Identifikasi varietas, penelitian karakteristik beras, dan peningkatan kualitas produk menjadi langkah yang dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Di tingkat petani, tantangan juga muncul dari berkurangnya minat generasi muda terhadap pertanian dan pelestarian adat. Kepala Desa Pangke, Morisno, menyoroti kondisi tersebut dan mengaitkannya dengan penghasilan pertanian yang dinilai belum memadai. Dukungan dan insentif bagi petani menjadi salah satu hal yang diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk tetap terlibat dalam budidaya tanaman lokal.
Koordinator Provinsi CDCSUI Kalimantan Tengah, Ichsanul Fikri, S.P., menjelaskan bahwa konservasi sumber daya genetik perlu didukung oleh penguatan kebijakan, pengembangan rantai nilai, dan pengelolaan pengetahuan. Upaya tersebut mencakup konservasi in situ di habitat asli, ex situ di luar habitat asli, serta on-farm melalui budidaya di lahan pertanian. Penguatan kapasitas petani dan penyuluh juga diperlukan agar pengetahuan mengenai karakter tanaman dan pengelolaan benih tetap diterapkan.
Melalui CDCSUI, konservasi padi lokal diharapkan tidak hanya menjaga keberadaan varietas, tetapi juga mendukung petani agar terus membudidayakannya. Dengan kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas masyarakat, kekayaan genetik pertanian Seruyan diharapkan tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang. (CIN/RO)