Rempah sebagai Identitas dan Budaya Tidore
Tidore bukan sekadar satu titik di peta Maluku Utara, namun merupakan episentrum dari sebuah narasi global yang mengubah jalannya sejarah dunia. Ketika kita berbicara tentang Tidore sebagai Titik Nol Jalur Rempah, kita tidak sedang membicarakan pelabuhan dagang yang pasif, melainkan sebuah tanah tempat pala dan cengkeh lahir, tumbuh, dan mengakar dalam kehidupan masyarakatnya
Bagi masyarakat Tidore, sebatang pohon cengkeh atau pala bukan sekadar aset ekonomi atau komoditas perkebunan, namun merupakan warisan leluhur yang berkaitan erat dengan identitas, spiritualitas, dan budaya mereka. Di Tidore, hubungan antara manusia dan rempah bersifat personal dan sakral. Cengkeh (Syzygium aromaticum) dan pala (Myristica fragrans) telah membentuk lanskap sosial dan tradisi yang masih terjaga hingga hari ini. Menanam, memanen, dan merawat pohon rempah adalah ritus komunal yang menyatukan spiritualitas, sistem sosial, dan pelestarian alam di pulau vulkanik ini.
Tantangan terbesar kebudayaan rempah saat ini adalah kesenjangan informasi antargenerasi. Proyek CDCSUI yang berfokus pada pelestarian keanekaragaman hayati global, diharapkan dapat membantu mengintervensi melalui manajemen pengetahuan yang sistematis, mengubah kearifan lokal (indigenous knowledge) menjadi instrumen konservasi dan kesejahteraan yang praktis agar kebudayaan rempah ini tidak luntur digerus zaman.