Pentingnya Konservasi dalam Menyelamatkan SDG Pertanian
Program Konservasi Sumber Daya Genetik Pertanian (SDGP) menjadi inisiatif strategis untuk melestarikan keanekaragaman genetik tanaman lokal dan kerabat liarnya. Upaya ini semakin mendesak mengingat ancaman deforestasi, alih fungsi lahan, masifnya penggunaan varietas unggul baru yang kian mempersempit populasi tanaman lokal di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ikhwan Multida, anggota Komponen 2 CDCSUI, dalam Pelatihan Konservasi In Situ dan On Farm untuk Tanaman Kerabat Liar dan Tanaman Lokal yang diselenggarakan BRMP Biogen bersama tim Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) di Klaten, Jumat (9/10/2026).
Ikhwan menjelaskan, terdapat tiga pendekatan utama dalam konservasi SDGP. Pertama, Konservasi In Situ, yaitu perlindungan tanaman kerabat liar di habitat aslinya seperti hutan dan rawa. Kedua, Konservasi On Farm, yakni budidaya aktif varietas lokal (landraces) di sawah, kebun, dan pekarangan petani dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP). Ketiga, Konservasi Ex Situ, yaitu penyimpanan plasma nutfah di Bank Gen Pertanian dengan fasilitas jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam program CDCSUI, kegiatan konservasi lebih diarahkan pada pendekatan in situ dan on farm. Petani dilatih untuk membedakan budidaya konservasi dengan budidaya biasa. Perbedaan mendasar terletak pada upaya menjaga kemurnian genetik tanaman agar tidak tercampur dengan varietas lain, mulai dari penyiapan benih, pemeliharaan, panen, pasca panen, hingga penyimpanan. Selain itu, pendokumentasian data paspor juga ditekankan untuk menghindari kekeliruan dalam pencatatan.
Pelatihan ini diharapkan dapat membuka wawasan petani mengenai pentingnya menjaga kekayaan tanaman lokal agar tidak punah, serta mendorong lahirnya gerakan konservasi di wilayah masing‑masing.