Menjaga Warisan Pangan, Jawa Tengah Perkuat Konservasi Tanaman Lokal
JAWA TENGAH — Keanekaragaman tanaman lokal menyimpan sumber daya genetik yang penting bagi keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan. Namun, perubahan penggunaan lahan, degradasi habitat, serta pergeseran pola budidaya menjadi tantangan dalam mempertahankan keberadaan varietas lokal dan tanaman kerabat liar. Upaya konservasi karena itu perlu dilakukan tidak hanya melalui penyimpanan benih, tetapi juga dengan menjaga tanaman di habitat alaminya dan mempertahankan budidaya varietas lokal oleh petani.
Penguatan upaya tersebut menjadi fokus Pelatihan Konservasi In Situ dan On-Farm untuk Tanaman Kerabat Liar (Crop Wild Relatives/CWR) dan Tanaman Lokal (Landraces) bagi organisasi perangkat daerah (OPD), penyuluh, dan petugas teknis tingkat provinsi dan kabupaten. Kegiatan yang diselenggarakan melalui Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) (13/10/2026) di The Wujil Resort Convention, Jawa Tengah, dan diikuti 70 peserta, terdiri atas 44 laki-laki dan 26 perempuan.
Kepala BRMP Jawa Tengah, Arif Surahman, S.Pi., M.Sc., Ph.D., yang membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya menjaga keanekaragaman tanaman sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. “Konservasi keanekaragaman hayati pertanian tidak cukup hanya dilakukan melalui penyimpanan benih atau materi genetik di fasilitas konservasi. Kita juga perlu memastikan bahwa tanaman tersebut tetap lestari di habitat alaminya dan terus dibudidayakan oleh petani di lahan pertanian,” ujarnya.
Pesan tersebut berkaitan dengan dua pendekatan utama yang menjadi materi pelatihan, yaitu konservasi in situ dan on-farm. Konservasi in situ dilakukan dengan menjaga sumber daya genetik di habitat alaminya, termasuk habitat tempat tanaman kerabat liar tumbuh dan berkembang. Sementara itu, konservasi on-farm dilakukan melalui pemeliharaan dan pemanfaatan varietas lokal secara berkelanjutan oleh petani. Kedua pendekatan ini saling melengkapi untuk mempertahankan keanekaragaman genetik sekaligus menjaga keberlanjutan praktik pertanian masyarakat.
Pelatihan juga membahas instrumen pendukung konservasi, meliputi Farm Conservation Plan (FCP), skema Payment for Agrobiodiversity Conservation Services (PACS), dan Kebun/Bank Gen Komunitas (KBK). Selain aspek teknis, peserta mendapatkan pembekalan mengenai perlindungan hak petani melalui prinsip PADIATAPA/FPIC serta pendekatan kesetaraan gender dan inklusi sosial (GEDSI). Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta dalam mengintegrasikan konservasi ke dalam pembinaan teknis dan program pembangunan pertanian di wilayah masing-masing.
Dalam pelaksanaannya, CDCSUI berfokus pada lima komoditas prioritas, yaitu padi, talas, uwi, pala, dan cengkeh, yang menjadi bagian dari upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik pertanian. Melalui pelatihan ini, OPD, penyuluh, dan petugas teknis diharapkan dapat memperkuat pendataan serta pemetaan sumber daya genetik lokal, mengidentifikasi habitat penting bagi tanaman kerabat liar, dan menyusun rencana tindak lanjut lintas tingkat pemerintahan. Langkah tersebut diharapkan menjadi dasar untuk mengintegrasikan konservasi ke dalam program daerah sekaligus menjaga keberlanjutan keanekaragaman tanaman bagi generasi mendatang.