Lek Tejo, Pemulia Mandiri dari Blora yang Merawat Kedaulatan Benih Lokal
BLORA – Di tengah perkembangan teknologi pertanian dan semakin beragamnya pilihan benih unggul, semangat untuk menjaga dan mengembangkan benih lokal terus tumbuh dari para petani di berbagai daerah. Salah satunya adalah Lek Tejo, petani sekaligus penangkar mandiri dari Desa Kemantren, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Lek Tejo memiliki ketertarikan dan kepedulian yang kuat terhadap pengembangan tanaman padi melalui seleksi benih secara mandiri. Tidak hanya menanam, ia juga secara tekun mengamati karakter tanaman, memilih tanaman yang memiliki sifat unggul, kemudian mempertahankan dan mengembangkannya dari musim ke musim.
Kegiatan tersebut menjadikan Lek Tejo bukan sekadar petani, tetapi juga dapat dipandang sebagai pemulia tanaman berbasis pengalaman lokal. Pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman bertahun-tahun membuatnya memahami karakter, asal-usul, serta keunggulan berbagai jenis padi yang ditanam dan dikembangkannya.
Beberapa padi lokal yang menjadi perhatian Lek Tejo antara lain padi Mentik Susu, padi hitam Cempo Ireng, padi merah, serta padi HSM. Varietas dan galur lokal tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan menjadi bagian dari kekayaan sumber daya genetik tanaman pangan yang penting untuk terus dilestarikan.
Salah satu hasil seleksi yang menjadi perhatian adalah padi HSM. Berdasarkan pengamatan Lek Tejo, padi tersebut memiliki jumlah bulir yang lebih banyak dan padat serta umur panen yang relatif lebih cepat. Karakter tersebut menjadi salah satu alasan bagi Lek Tejo untuk terus mempertahankan dan mengembangkan padi hasil seleksi mandirinya.
Merawat Benih Lokal, Menjaga Kedaulatan Pangan
Bagi Lek Tejo, benih bukan sekadar sarana produksi. Benih merupakan bagian dari kekayaan pertanian yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan potensi ekonomi bagi petani.
Di tengah penggunaan benih modern yang semakin luas, upaya mempertahankan benih lokal menjadi penting untuk menjaga keberagaman sumber daya genetik tanaman. Keberadaan petani seperti Lek Tejo menjadi salah satu contoh nyata bahwa konservasi plasma nutfah dapat dilakukan dari tingkat petani, melalui kegiatan sederhana namun konsisten seperti seleksi, penyimpanan, penanaman kembali, dan pertukaran pengetahuan mengenai benih lokal.
Kemandirian dalam menghasilkan dan mempertahankan benih juga dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap sumber benih dari luar serta memperkuat posisi petani dalam menentukan benih yang sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat.
Konsisten dengan Pertanian Organik
Tidak hanya fokus pada benih, Lek Tejo juga menerapkan sistem budidaya padi secara organik. Pilihan tersebut bukan tanpa tantangan. Budidaya organik membutuhkan ketekunan, pengetahuan, serta kemampuan petani dalam mengelola kesuburan tanah dan ekosistem pertanian secara lebih alami.
Bagi Lek Tejo, pertanian organik bukan semata-mata persoalan keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, pilihan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan upaya untuk menghasilkan pangan yang lebih sehat sekaligus menjaga keberlanjutan lahan pertanian.
Perjalanan Lek Tejo dalam mengembangkan pertanian organik menjadi bukti bahwa petani kecil memiliki peran penting dalam mendorong perubahan menuju sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Inspirasi bagi Kemandirian Petani
Kisah Lek Tejo menjadi gambaran nyata bahwa inovasi pertanian tidak selalu lahir dari laboratorium atau institusi besar. Inovasi juga dapat tumbuh dari pengalaman, ketekunan, dan pengetahuan petani di lapangan.
Semangat Lek Tejo sejalan dengan semangat proyek CDCSUI dalam mendorong kemandirian, keberlanjutan, serta penguatan sistem pangan. Praktik yang dilakukan Lek Tejo menunjukkan bahwa upaya menjaga kedaulatan pangan dapat dimulai dari langkah sederhana: mengenali potensi lokal, menjaga benih, mengembangkan varietas yang sesuai dengan lingkungan, dan menerapkan praktik budidaya yang berkelanjutan.
Lek Tejo telah menunjukkan bahwa petani kecil bukan hanya penerima teknologi, tetapi juga dapat menjadi pelaku inovasi dan penjaga sumber daya genetik pertanian.
Dari Desa Kemantren, Blora, semangat itu terus tumbuh. Melalui benih lokal yang dirawat, diseleksi, dan dikembangkan dari generasi ke generasi, Lek Tejo turut menanam harapan akan masa depan pertanian yang mandiri, sehat, berdaulat, dan berkelanjutan.
Lek Tejo mungkin hanya seorang petani bagi sebagian orang. Namun dari tangan dan ketekunannya, kita belajar bahwa kedaulatan pangan dapat dimulai dari satu petani, satu benih, dan satu tekad untuk terus menjaga warisan pertanian Indonesia.