Kesultanan Ternate dan Tidore Dukung Upaya Menjaga Warisan Pala dan Cengkeh
MALUKU UTARA — Pala dan cengkeh bukan sekadar komoditas bagi masyarakat Maluku Utara. Di balik aroma dan nilainya yang telah dikenal sejak berabad-abad lalu, kedua rempah ini menyimpan pengetahuan, praktik, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Semangat untuk menjaga warisan tersebut kembali menguat ketika Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) melakukan kunjungan ke dua Kesultanan di Maluku Utara, yakni Kesultanan Ternate (21/9/2026) dan Kesultanan Tidore (22/9/2026).
Kedatangan tim CDCSUI disambut dengan hangat oleh kedua Kesultanan, bahkan melalui prosesi adat yang menjadi bagian dari penghormatan terhadap tamu dan tradisi setempat. Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan tujuan dan upaya proyek dalam mendukung konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik tanaman, sekaligus mendengarkan pandangan Kesultanan mengenai pentingnya menjaga pala dan cengkeh sebagai bagian dari sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat Maluku Utara.
Dukungan tersebut kemudian dituangkan dalam Pernyataan Dukungan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Kedua Kesultanan menyampaikan dukungan terhadap pelindungan pengetahuan dan praktik lokal yang telah terbukti berkelanjutan, penguatan konservasi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem, serta pengembangan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis pertanian warisan. Keduanya juga menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dan memberikan dukungan moral maupun kelembagaan dalam proses pengusulan, penguatan narasi warisan pertanian, serta kegiatan pendukung sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi masyarakat Maluku Utara, menjaga pala dan cengkeh berarti menjaga lebih dari sekadar tanaman. Pengetahuan tentang cara merawat, memanfaatkan, dan mempertahankan keberadaan rempah tersebut merupakan bagian dari warisan yang melekat pada kehidupan masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan Kesultanan menjadi penting untuk memperkuat narasi bahwa konservasi sumber daya genetik juga perlu berjalan beriringan dengan pelindungan pengetahuan lokal dan nilai budaya yang menyertainya.
Harapannya, pala dan cengkeh Maluku Utara tidak hanya terus tumbuh di tanah asalnya, tetapi juga semakin dikenal dan memiliki tempat yang lebih kuat di dunia. Dari Ternate hingga Tidore, semangat yang disampaikan begitu jelas: menjaga warisan rempah hari ini adalah bagian dari upaya membawa kekayaan Maluku Utara terus eksis, berkembang, dan menembus pasar internasional di masa depan.