Kapuas Perkuat Konservasi Pangan Lokal, Libatkan Petani dari 17 Desa
KAPUAS - Pemerintah Kabupaten Kapuas memperkuat upaya pelestarian tanaman pangan lokal melalui Pelatihan Konservasi In-situ dan On-farm Tanaman Kerabat Liar (Crop Wild Relatives/CWR) dan Tanaman Lokal (Local Crops/LCs) pada 6–9 Oktober 2026 melalui Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh BRMP Biogen melibatkan 123 peserta laki-laki dan perempuan dari kelompok tani 17 desa, penyuluh pertanian, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Para peserta dibekali pemahaman mengenai konservasi, baik in-situ maupun ex-situ, serta potensi padi lokal dan talas sebagai sumber daya genetik yang perlu dijaga.
Wakil Bupati Kapuas, Dodo, M.A dalam sambutannya menegaskan pentingnya memastikan varietas lokal tetap hidup, dibudidayakan, dimanfaatkan, dan dikembangkan agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Sementara perwakilan Bapperida Kabupaten Kapuas, Akhmad Saribi, menekankan perlunya aksi nyata untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah, khususnya padi lokal. Dukungan pemerintah daerah diarahkan pada pengembangan persawahan berbasis benih lokal unggul, bank benih lokal berbasis komunal, serta program Desa Plasma Nutfah.
Berdasarkan keterangan peserta, di lapangan, petani menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan padi lokal, mulai dari penurunan kualitas benih, perubahan musim dan kemarau panjang, serangan monyet serta hama penggerek, hingga berkurangnya minat generasi muda terhadap pertanian.
Azizah, sebagai perwakilan perempuan dari kelompok tani peserta pelatihan, menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap keberlanjutan padi lokal di tengah tantangan tersebut. Sementara itu, penyuluh pertanian Ibu Nina Andriaty melihat peluang pengembangan nilai ekonomi padi lokal, termasuk sebagai beras premium yang diminati pasar karena karakteristik dan potensi gizinya.
Melalui kegiatan ini, teridentifikasi lebih dari 10 varietas padi lokal yang masih dibudidayakan masyarakat Kapuas, diantaranya Siam Karang Dukuh, Siam Pandak, Karang Dukuh Kuning, dan Mayang Putih. Selain itu, melalui pelatihan ini terbentuk Forum Koordinasi Pengelolaan Keragaman Hayati Kabupaten Kapuas.
Dr. Anang Firmansyah, narasumber dari BRMP Kalimantan Tengah, berharap pelatihan ini tidak hanya memperkuat keterampilan teknis budidaya tanpa bakar, tetapi juga meningkatkan semangat petani dalam melestarikan padi lokal. Praktik seleksi dan pemuliaan benih yang dilakukan petani menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan varietas lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.