BRMP Biogen Sosialisasikan SNI Baru Pengelolaan Sumber Daya Genetik Pertanian
BOGOR – Sebagai langkah konkret dalam mengamankan aset biologis nasional di tengah tantangan biopirasi dan perubahan iklim global, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen) resmi menyosialisasikan dua Standar Nasional Indonesia (SNI) terbaru di bidang sumber daya genetik pertanian.
Agenda yang dilaksanakan secara daring pada Jumat, 4 September 2026 ini, menandai tonggak baru dalam modernisasi tata kelola kekayaan hayati Indonesia guna menjamin kedaulatan pangan dan kepastian hukum bagi para pemangku kepentingan sektor pertanian. Nur Azizah, M.Si. selaku narasumber memaparkan SNI 9400:2025 Pengelolaan bank gen in vitro tumbuhan dan SNI 9447:2026 Pedoman akuisisi sumber daya genetik pertanian tanaman diperbanyak dengan biji, serta Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si. (IPB) sebagai pembahas.
Kehadiran standar ini bukan sekadar pemenuhan aspek administratif, melainkan instrumen strategis untuk memitigasi risiko kehilangan materi genetik dan memastikan praktik akuisisi aset hayati dilakukan secara legal serta sistematis. Dengan jangkauan akses daring, sosialisasi ini menyasar lebih dari 50 kantor regional, balai penerapan di seluruh provinsi akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan organisasi kemasyarakatan untuk memastikan keseragaman standar dari hulu hingga hilir.
Konteks Strategis: Memagari Kekayaan Hayati Nasional
Perumusan standar ini merupakan hasil sinergi intensif dalam Komite Teknis (Komtek) 65-21 Pengelolaan Sumber Daya Genetik Pertanian. Keberadaan standar yang baku menjadi krusial mengingat Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia yang rentan terhadap eksploitasi tanpa izin.
Kepala BRMP Biogen, Dr. Atekan, S.P., M.Si., menegaskan bahwa SNI ini berfungsi sebagai "pagar teknis" bagi kekayaan sumber daya genetik Indonesia. "SNI ini adalah instrumen perlindungan kekayaan hayati kita. Tanpa standar yang diakui secara nasional, pengelolaan bank gen pertanian dan proses akuisisi materi genetik pertanian berisiko mengalami ketidakteraturan teknis yang dapat merugikan kepentingan nasional, baik dari sisi ekonomi maupun kedaulatan sains di masa depan," tegasnya.
Sinergi Multipihak: Arsitek Standar dan Ekosistem Inklusif
Keabsahan dan kualitas SNI ini didorong oleh keterlibatan para pakar yang bertindak sebagai arsitek utama standar di dalam Komtek 65-21. Tokoh-tokoh akademisi terkemuka seperti Prof. Dr. Ir. Sobir, M.Si. (IPB), Prof. Dr. Sc. Agr. Agung Karuniawan (UNPAD), dan Prof. Dr. Ir. Taryono, M.Sc. (UGM) bukan sekadar hadir sebagai peserta, namun merupakan perumus di balik parameter teknis standar tersebut.
Selain pakar akademisi, pembangunan ekosistem standardisasi ini melibatkan mitra yang lebih luas di antaranya Badan Standardisasi Nasional (BSN), Asosiasi Perbenihan Indonesia (ASBENINDO), Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura Indonesia (HORTINDO), Yayasan Borneo Institute sehingga menunjukkan inklusivitas standar yang merangkul aspirasi pelestarian berbasis komunitas dan wilayah geografis spesifik, serta didukung oleh Dinas Pertanian dari Aceh hingga Papua. (NA/RAS)