Bimtek di Tidore Dorong Hilirisasi Pala dan Cengkeh Jadi Produk Bernilai Tambah
TIDORE KEPULAUAN – Pala dan cengkeh memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi. Untuk mendorong pemanfaatan potensi tersebut, Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Pala dan Cengkeh digelar di Kota Tidore Kepulauan pada 26–27 Oktober 2026, dengan fokus pada peningkatan kualitas, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing usaha lokal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek CDCSUI yang mendorong konservasi keanekaragaman tanaman secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya genetik.
Wakil Ketua Komponen 3 CDCSUI, Didu Wahyudi, S.E., M.Si., dalam arahannya menekankan pentingnya pengelolaan potensi komoditas yang didukung kolaborasi berbagai pihak agar memberikan nilai ekonomi optimal. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tidore Kepulauan, Fauzi Robo, menyoroti pengembangan pala dan cengkeh sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi dari Kepala Bidang Perindustrian dan Perdagangan UMKM Kota Tidore Kepulauan, Munawir Dukomalamo, mengenai potensi pala dan cengkeh serta peluang pengembangan usaha. Materi mencakup diversifikasi produk, pemanfaatan media sosial untuk pemasaran, legalitas usaha melalui Nomor Induk Berusaha (NIB), serta pentingnya kemasan dan label yang menarik.
Diskusi bersama petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dari Gurabunga, Jaya, dan Makian mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan usaha, mulai dari keterbatasan peralatan produksi dan akses pemasaran hingga kebutuhan pendampingan berkelanjutan setelah pelatihan.
Di sisi lain, peserta juga menggali peluang pengembangan produk turunan pala dan cengkeh, seperti manisan, selai, bubuk rempah, pewarna alami, abon, dan minuman pala. Diversifikasi ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas lokal.
Materi berikutnya disampaikan oleh National Project Manager (NPM) CDCSUI, Sudarsono, mengenai penyusunan proposal bisnis dan rencana usaha. Peserta didorong untuk mengenali kebutuhan usaha serta menentukan target pasar sebelum melakukan investasi peralatan produksi.
Untuk memperkuat pemahaman, peserta mengikuti praktik penyusunan proposal bisnis dalam tiga kelompok, yang dilanjutkan dengan presentasi hasil oleh perwakilan masing-masing kelompok.
Memasuki hari kedua, perhatian diarahkan pada peningkatan mutu hasil panen dan keamanan produk. Novita Ardiarini, S.Pt., M.Sc., dari BRMP Maluku Utara menyampaikan materi Good Handling Practices (GHP) dalam penanganan pascapanen pala dan cengkeh.
Pembahasan meliputi sortasi, pengeringan, penyimpanan, kebersihan peralatan, serta penanganan hasil panen sesuai standar. Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan kendala yang kerap dihadapi, seperti kesulitan pengeringan saat musim hujan, keterbatasan tenaga pemanen, dan kebutuhan peralatan yang sesuai dengan kondisi geografis setempat.
Selanjutnya, Juniawati, S.TP., M.Si., membawakan materi deteksi aflatoksin pada pala. Peserta memperoleh pemahaman mengenai risiko kontaminasi jamur, dampaknya terhadap kesehatan dan mutu produk, serta langkah pencegahan melalui pemanenan pada tingkat kematangan yang tepat, pengeringan optimal, dan penyimpanan yang sesuai.
Kegiatan juga dilengkapi praktik identifikasi aflatoksin menggunakan alat uji cepat sebagai pengenalan pemeriksaan keamanan produk. Peserta turut mengikuti praktik pembuatan produk olahan, pengemasan, dan pelabelan untuk mendukung peningkatan kualitas serta daya tarik produk di pasar.
Melalui rangkaian bimtek ini, petani dan pelaku UMKM diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk dengan mutu yang lebih baik, tetapi juga mengembangkan usaha yang terencana dan berorientasi pasar.
Kolaborasi antara petani, KWT, penyuluh, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, hilirisasi pala dan cengkeh di Tidore Kepulauan diharapkan semakin berkembang, membuka peluang usaha bagi masyarakat, dan meningkatkan daya saing produk lokal.